Ulasan Kelas

#AkberBali77 “Menciptakan Lingkungan yang Inklusif untuk Anak Berkebutuhan Khusus”

Tanggal 18 Agustus kemarin, Akber Bali baru saja selesai mengadaKan kelasnya yang ke 77 dengan judul kelas #AkberBali77 Menciptakan Lingkungan yang Inklusif untuk Anak Berkebutuhan Khusus bersama Relawan Guru Winda di DILO Bali.

Winda Yuliantari, Relawan Guru Akber Bali untuk kelas kali ini adalah pemerhati dan praktisi Anak Berkebutuhan Khusus atau yang sering disingkat dengan. ABK. Beliau juga pendidik di Turiya Educare dan aktif mempublikasikan tulisannya kolom parenting di salah satu koran lokal di Bali.
Libur panjang karena cuti bersama tidak menyurutkan semangat Akberians untuk mengikuti kelas ini. Kelas ini dimulai tepat pukul 16.00. Berbeda dengan kelas-kelas Akber Bali yang sebelumnya yang sifatnya ‘kelas’, untuk Kelas Akber Bali 77 ini berbentuk group discussion dalam pembahasan materi. Kelas ini juga semakin ramai karena diikuti oleh teman-teman relawan dari LBH Bali.

Pembahasan pertama adalah definisi ABK. Anak yang berkebutuhan khusus seringkali terlihat normal secara fisik. Perlu pendekatan khusus untuk mengetahui apakah anak itu berkebutuhan khusus atau tidak. Disini juga dibahas tantangan dan upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.

Tantangan untuk menciptakan lingkungan yang inklusif untuk anak berkebutuhan khusus ada 3 macam. Yang pertama : parents of the social need. Kesiapan orang tua dan pengetahuan yang dimilik oleh para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Yang kedua : education. Dari segini pendidikan, ketidaksiapan pihak sekolah terutama dari segi SDM. Labeling sekolah inklusif tidak diikuti dengan SDM, contohnya guru khusus untuk anak berkebutuhan khusus.

Yang ketiga, society : pikiran-pikiran negatif dari masyarakat yang kurang memahami anak berkebutuhan khusus.

Ketiga tantangan untuk menciptakan lingkungan yang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus seperti diatas, dapat diminimalisir dengan cara personal maupun profesional, seperti yang dijelaskan oleh Relawan Guru Winda.Ada senyum. Anak berkebutuhan khusus kebanyakan sensitif, mereka bisa merasakan jika kita dalam kondisi mood tidak baik. Senyum juga meng-encourage orang tua dengan anak berkebutuhan khusus untuk lebih terbuka dan menerima.

Yang kedua : encourage and teach our kids. Ini dari sisi orang tua. Seringkali orang tua hanya melihat dari sisi ketidakmampuan anaknya. Harus diperhatikan, kapabilitas tiap anak berbeda.

Yang ketiga support each other : ini yang bisa kita semua lakukan, encourage anak-anak berkebutuhan khusus untuk melakukan yang mereka suka. Anak berkebutuhan khusus memiliki kepekaan energi dan tingkat kecemasan yang tinggi. Itu sebabnya anak berkebutuhan khusus seringkali memiliki trust issue.

Secara professional, apa yang bisa dilakukan?
Bangunan atau area yang ramah untuk anak berkebutuhan khusus. Jam kerja yang fleksible untuk anak berkebutuhan khusus dan menciptakan cara belajar atau kurikulum yang cocok untuk anak berkebutuhan khusus.

Materi tersebut dipaparkan selama durasi dua jam dari diadakannya kelas, dan dilanjutkan dengan sharing session dari teman-teman Akberians yang hadir. Terakhir ada juga pemaparan dan informasi penyaluran bantuan dari LBH Bali untuk Gempa Lombok.

Topik ini termasuk topik yang memang masih belum banyak diperbincangkan di khalayak umum. Semoga kelas #AkberBali77 inklusif anak berkebutuhan khusus ini bisa memberikan pengetahuan dan manfaat bukan saja untuk Akberians yang hadir tetapi juga untuk Akberians yang membaca ulasan kelas ini.

Salam,
Berbagi Bikin Happy!
Eka M Lestari
Denpasar, Agustus 2018

Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *