Kelas Akber Bali Kreatif

Dari Kelas #19: Belajar Menciptakan Karya

 


Kelas Akademi Berbagi Bali kali ini menarik karena berlokasi di The Sanur Space (dengan konsep space berbentuk tempat hunian) dan bertepatan dengan Ubud Writer Reader Festival, saat itu Aaman Sulchan (founder TSS) kebetulan hadir langsung dan memberikan voucher gratis berbentuk pembatas buku, untuk peserta Akber Bali menikmati TSS selama 1 hari secara Gratis. Sebuah sambutan hangat dari Aaman Sulchan untuk peserta Akber Bali #19, “kita perlu membuat acara seperti UWRF menjadi accessable dalam kelas – kelas kecil diberbagai tempat, seperti hari ini, terima kasih untuk semua yang telah ambil bagian dalam inisiatif ini.”
 

Novel sama seperti kado, pastikan ia menarik di bab pertama. Bahkan paragraf & kata pertama. Berusahalah menarik sejak awal.” – Bernard Batubara

Selama kelas #19 Akademi Berbagi Bali berlangsung, ini adalah kalimat yang paling saya ingat diucapkan Bernard Batubara atau yang rajin berkicau di akun @benzbara_. Bara adalah salah satu novelist muda Indonesia yang sangat produktif, karya terbarunya menurut saya sangat menarik sejak kata pertama di halaman depan Cinta. (baca: cinta dengan titik), mari kita intip profilnya di goodreads:

Bernard Batubara lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat; saat ini tinggal di Yogyakarta. Tahun 2012 menamatkan studi Teknik Informatika di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Selama kuliah aktif di lembaga pers mahasiswa. Belajar mengarang puisi, cerpen, dan novel, sejak pertengahan tahun 2007. Puisi dan cerpennya sempat dimuat di majalah seni GONG, harian Kompas, Batam Pos, Koran Tempo, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, dan beberapa antologi bersama: “Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian” (puisi, Indie Book Corner, 2010), “Pedas Lada Pasir Kuarsa” (puisi, Temu Sastrawan Indonesia II, 2010), “Percakapan Lingua Franca” (puisi, Temu Sastrawan Indonesia III, 2011), “Tuah Tara No Ate” (cerpen, Temu Sastrawan IV, 2011), “Mata” (kumcer, Jurnal Cerpen Indonesia edisi 12, 2012), “Empat Cangkir Kenangan” (puisi, Serba Indie, 2012), “Cerita Hati” (kumcer, Bukune, 2012), dan “Singgah” (kumcer, Gramedia, 2013).

Buku pertamanya, kumpulan puisi “Angsa-angsa Ketapang” (Greentea, 2010). Menulis buku “Radio Galau FM: Frekuensi Patah Hati & Cinta yang Kandas” (WahyuMedia, 2011) dengan pseudonim @RadioGalauFM, novel “Kata Hati” (Bukune, 2012), dan kumpulan cerita “Milana” (Gramedia, 2013). Buku “Radio Galau FM” dan “Kata Hati” telah diangkat ke dalam film layar lebar oleh Rapi Films dengan judul yang sama.

Mengisi sebagai pembicara di festival sastra Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013, dan penulis terpilih Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2013. 

Novel terbarunya telah terbit, CINTA. [baca: cinta dengan titik] (Bukune, 2013). Saat ini sedang menyiapkan kumpulan cerpen dan novel yang direncanakan terbit 2014. Cerpennya “Goa Maria” telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dalam buku antologi dwibahasa UWRF 2013 “Through Darkness To Light” (Habis Gelap Terbitlah Terang).

 
Selain menjelaskan elemen dasar seuah fiksi, Bara juga mengajak peserta untuk praktek secara langsung menulis Novel, dengan 3 kata kunci (three words games) : Apel, Cermin & Lilin. Dalam waktu 15 menit, 7 karya berhasil dibacakan diakhir waktu dan mendapat koreksi langsung dari Bara. Beberapa yang menjadi catatan kesalahan yang sering dilakukan penulis adalah

  1. Repetisi (pengulangan akan menganggu pembacaan. Usahakan jangan terlalu banyak mengulang kata pada jarak berdekatan.),
  2. Kendati menulis fiksi dan mengejar efek puitis, jangan terbawa pada ketimpangan logika di dalam menulis.
  3. Mungkin akan ada sub plot yang diperlukan memperkuat plot utama. Jngan sampai sub plot mempunyai porsi & efek lebih besar.
Berikut elemen-elemen dasar sebuah fiksi yang disampaikan Bara: Ide, Karakter, Narasi, Plot dan Point of View. 
  • Ide jangan ditunggu, tapi diciptakan atau dicari, bisa dari pengalaman pribadi, orang lain, buku yang dibaca, film yang ditonton.
  • Ciptakan karakter yang manusiawi, walaupun cerita fiksi di dunia ini tidak ada karakter yang 100% sempurna, dan memanusiakan karakter adalah cara membuat hubungan penulis dan pembaca menjadi dekat. Umumnya karakter terbagi jadi tiga, protagonis, antagonis dan supporting. Jangan artikan protagonis sebagai baik & antagonis sebagai jahat. artikan Protagonis adalah karakter yang ingin mencapai tujuan tertentu, sedang Antagonis adalah karakter yang berusaha menghalangi Protagonis mencapai tujuannya.
  • Narasi yang baik tidak dipanjang-panjangkan. Gunakan dialog dengan efektif, jangan mengulang yang ada pada narasi. Dialog juga berfungsi untuk menggambarkan karakter setiap tokoh. Intonasi serta apa yang diucapkan akan berbeda.
  • Pada elemen setting, ada setting global misal Bali & setting local misalnya di kamar. Setting mempengaruhi elemen yg lain. Pada elemen plot, jangan pernah lepaskan hubungan sebab akibat. 
  • Elemen konflik terbagi tiga: man to himself, man to man, dan man to society. 
  • Point of view, terbagi menjadi sudut pandang pertama, ketiga, kedua (misal menggunakan surat). Jangan dicampur aduk. Penggunaan point of view berdasarkan pertimbangan kebutuhan. Bila merasa perlu masuk ke semua kepala, gunakan Point of Veiw orang ketiga.
  • Perencanaan dengan Outline itu adalah 50% dari keberhasilan sebuah Novel. “Writing spontaneusly is okay, but designing is good.” How many pages? How many chapter? How many pages in every chapter? – Bara
  • “No deadline, no first draft.” Jadi deadline itu sangatlah penting. Berlakukan itu untuk novel, sama seperti tugas kuliah. – Bara
  • “Proses menulis sudah dimulai jauh sebelum berhadapan dengan laptop, melainkan dimulai dalam kepala kita.” – Bara
  • “Hal yang penting dimiliki penulis fiksi adalah logika berpikir sebab akibat & kemampuan utk menjahit adegan.” – Bara
  •  Untuk mengembangkan cerpen menjadi novel tidak sekadar memanjangkan namun juga melakukan eksplorasi.
  • Langkah menyunting draft pertama: Jangan langsung disunting! Tinggalkan beberapa waktu, baca & akan ditemukan banyak kesalahan.
  • Perlu menentukan genre novel sejak awal, agar tau unsur-unsur apa saja yang harus kita masukan pada naskah kita. Penting mempelajari genre yg biasa diterbitkan sebuah penerbit. Prosesnya sama seperti mncari sponsor. Patuhi format naskah.
  • “Kita bisa menulis apa yg belum pernah kita alami, asal melakukan riset dan mampu membuat pembaca percaya kita mengalami itu.” – Bara

 “Tak ada ide adalah kalimat yang tidak masuk akal. Ide bisa ditunggu muncul tiba-tiba, ide jg bisa dipancing.” – Bernard BatubaraDokumentasi Kelas #19: https://drive.google.com/folderview?id=0B_vVMSTOMMOecEM2MlNNS3RhbVk&usp=sharing

Share To :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *